Berita

Menjaga Makna di Balik Kemegahan Tradisi Walima Gorontalo

×

Menjaga Makna di Balik Kemegahan Tradisi Walima Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Arman Mohammad (Budayawan Gorontalo & Penulis)
Arman Mohammad (Budayawan Gorontalo & Penulis)

GORONTALO, HARIANPOST.ID- Masyarakat di Gorontalo memiliki tradisi unik dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Siapa yang tidak kenal tradisi Walima? Tradisi ini menjadi salah satu warisan budaya Gorontalo yang sampai kini masih dilestarikan.

Harum aroma kue dan beragam makanan khas tradisional yang berpadu dengan riuh gembira masyarakat Muslim Gorontalo menjadi pemandangan khas pada setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di daerah yang dijuluki Serambi Madinah ini.

Bukan hanya sekadar tradisi, menurut Budayawan Gorontalo Arman Mohammad, tradisi Walima adalah wujud rasa syukur dan kebahagiaan masyarakat Gorontalo kepada Sang Pencipta atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Tradisi Walima dalam peringatan Maulid Nabi ini adalah puncak rasa syukur atas berkah dan rahmat berkenaan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW,” kata Arman Mohammad, Senin, 31 Agustus 2026.

Perayaan Maulid Nabi yang dirayakan dengan tradisi Walima ini, menurut Arman, memiliki perbedaan yang mencolok dengan perayaan Maulid Nabi yang diselenggarakan di daerah lain, khususnya oleh masyarakat Jawa. Di Gorontalo, perayaan Maulid Nabi cenderung dipengaruhi oleh budaya keislaman Melayu.

“Sebetulnya, tradisi Walima ini lebih cenderung dipengaruhi oleh budaya Melayu. Di Jawa, itu berakulturasi dengan nilai-nilai budaya Jawa. Tapi di Jawa, lebih cenderung Walima itu adalah hasil alam yang mentah, di sana disebut Gunungan. Kalau kita di sini, makanan yang siap saji, itu bedanya. Budaya Melayu lebih ke sajian makanan khas, sedangkan budaya Jawa adalah hasil alam yang ditata berbentuk piramida kemudian dibagikan setelah didoakan,” terang Arman Mohammad.

Mengenal Tolangga, Toyopo, dan Walima Puluto pada Tradisi Walima

Beragam makanan khas dan kue tradisional akan dibagikan kepada masyarakat pada perayaan tradisi Walima ini. Namun, sebelum dibagikan, sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta, tradisi tersebut diawali dengan zikir semalaman atau masyarakat Gorontalo mengenalnya dengan nama dikili.

Kue dan makanan itu ditata dengan bentuk khas sebelum dibagikan. Yang besar disebut Tolangga, sedangkan yang kecil disebut Toyopo.

“Di Gorontalo ini banyak makanan khas yang hanya muncul pada perayaan Maulid Nabi, seperti Bilindi, Kolombengi, dan kue tradisional lainnya. Dan bentuk Walima itu ada yang besar atau Tolangga, dan anak-anaknya itu disebut Toyopo. Dan biasanya pembagiannya itu dua, kepada khalifah atau pemimpin, dan yang berikutnya dibagikan kepada pezikir semalam suntuk,” kata Arman.

Tidak hanya itu, berbeda dengan Tolangga dan Toyopo, pada tradisi itu juga terdapat Walima Puluto yang makanannya tersebut diperuntukkan atau dibagikan kepada anak-anak.

Tradisi Walima Membawa Kebahagiaan

Budayawan Arman Mohammad yang juga penulis buku Sedjarah Negeri Pagoet ini menjelaskan bahwa setiap kue dan bentuk Walima dalam tradisi Gorontalo itu memiliki historis yang kuat dan makna yang mendalam. Karena itu, sajian makanan dan kue khas tradisional pada Tolangga dan Toyopo, menurutnya, harus dipertahankan.

Belakangan, tidak hanya makanan khas dan kue-kue tradisional, Tolangga dan Toyopo yang dibagikan pada perayaan tradisi Walima kini bercampur dengan makanan kemasan, makanan ringan, hingga peralatan dapur.

“Tradisi Walima ini memiliki makna, makanan-makanan yang ditata dalam bentuk Tolangga dan Toyopo itu ada maknanya, sehingganya pembagian untuk para khalifah dan para pezikir ini harus mempertahankan tradisi. Sedangkan untuk Walima Puluto itu tidak masalah diisi dengan makanan kemasan, makanan ringan, atau bahkan peralatan dapur. Kenapa makanan ringan itu perlu juga untuk disajikan, supaya anak-anak ikut memeriahkan Walima, dan memang Nabi juga itu mencintai anak-anak. Sehingga tradisi Walima ini membuat mereka anak-anak menjadi gembira dengan sajian makanan dalam Walima Puluto,” terang Arman.

Sebagai tradisi yang membawa kebahagiaan, tradisi Walima saat ini, kata dia, tidak mengalami pergeseran nilai. Toh, isi atau makanan yang ditata dalam Tolangga dan Toyopo tetap mempertahankan tradisi yang diwariskan turun-temurun.

“Tidak ada masalah, tidak ada pergeseran nilai. Tolangga dimodifikasi dengan bahan-bahan lain boleh, tapi tidak boleh meninggalkan isi aslinya, yakni kue-kue dan makanan khas Gorontalo, karena memang ada maknanya,” ujarnya.

Berbeda dengan tradisi lainnya, pembagian kue pada tradisi Walima ini bisa menyasar siapa saja, termasuk masyarakat non-Muslim. Ada pesan penting yang terkandung pada tradisi Walima tersebut, yakni mempererat hubungan persaudaraan dan persatuan sesama umat manusia.

Merawat Tradisi Walima, Pemerintah Perlu Hadirkan Regulasi

Dalam mempertahankan tradisi Walima, pemerintah daerah, menurut Arman, perlu menghadirkan regulasi untuk membangun kesadaran kolektif dan merawat warisan budaya yang berdampak terhadap sosial tersebut.

“Tradisi Walima dalam memperingati Maulid Nabi ini memiliki nilai sosial. Sama seperti zakat fitrah, berkurban, Maulid Nabi juga bisa berempati kepada orang lain yang membutuhkan makanan dan sebagainya. Apalagi kalau isinya ada minyak goreng, beras, dan lainnya, itu bisa kita data ada berapa banyak orang yang membutuhkan. Saya kira akan lebih bagus kalau ada regulasi, supaya pemerintah daerah bisa mengintervensi dalam hal pendanaannya, dan juga menjadi landasan pelestariannya,” jelasnya.