Pemkab Boalemo

Menatap Puing Mimpi Pulau Cinta, Ketika ‘Maladewa-nya Indonesia’ Tinggal Tiang Beton

×

Menatap Puing Mimpi Pulau Cinta, Ketika ‘Maladewa-nya Indonesia’ Tinggal Tiang Beton

Sebarkan artikel ini
Pulau Cinta Boalemo Saat itu. Kini yang tersisa tiang-tiang beton di Pulau Cinta. (Sumber Foto: BPKP Gorontalo)
Pulau Cinta Boalemo Saat itu. Kini yang tersisa tiang-tiang beton di Pulau Cinta. (Sumber Foto: BPKP Gorontalo)

 

BOALEMO, HARIANPOST.ID- Beberapa tahun lalu, jika kita mengetik kata kunci “Maladewa-nya Indonesia” di mesin pencarian, nama Pulau Cinta di Kabupaten Boalemo, Gorontalo, pasti berada di daftar teratas.

Resort berbentuk hati yang ikonik dengan deretan eco-cottage di atas air jernih itu sempat mendunia, menjadi magnet wisatawan domestik hingga mancanegara. ​Namun hari ini, romansa itu telah karam. Wisatawan yang datang tidak lagi disambut oleh kemewahan resort terapung, melainkan pemandangan pilu.

Kondisi Pulau Cinta Boalemo saat ini, yang tersisa tiang-tiang beton. (Sumber Foto: Tribun Gorontalo)
Kondisi Pulau Cinta Boalemo saat ini, yang tersisa tiang-tiang beton. (Sumber Foto: Tribun Gorontalo)

Deretan tiang beton yang berdiri kokoh namun telanjang, seolah menjadi monumen bagi kejayaan yang telah mati. Antara harapan membangun membali dan realita yang mandek.

​Pemerintah Kabupaten Boalemo sebenarnya bukan tanpa pergerakan. Beberapa waktu lalu, Bupati Boalemo sempat melontarkan rencana besar untuk membangun kembali ikon pariwisata yang redup ini. Rencana tersebut sempat mengembuskan angin segar dan secercah harapan bagi masyarakat lokal.

​Namun, waktu terus berjalan dan realisasi di lapangan masih nol besar. Janji tinggal janji, sementara tiang-tiang beton di Pulau Cinta kian membisu, berdiri kaku di tengah gempuran ombak tanpa ada kejelasan kapan bangunan di atasnya akan kembali berdiri.

​”Melihat Pulau Cinta hari ini seperti melihat puing-puing mimpi yang runtuh. Dulu tempat ini adalah kebanggaan kami, sekarang rasanya sedih melihatnya telantar seperti ini. Tiang-tiang beton itu seperti saksi bisu kejayaan masa lalu,” ujar Upik salah satu warga yang mengenang masa keemasan Pulo Cinta, Jumat, 8 Juni 2026.

​Daya tarik Pulau Cinta sebenarnya belum sepenuhnya pudar di mata bermata uang tebal. Tercatat, sudah ada investor yang datang berkunjung dan melihat langsung potensi patahan surga di Teluk Tomini ini.

​Bahkan, beberapa waktu lalu, Bupati bersama Wakil Bupati Boalemo telah melakukan pertemuan dengan calon investor yang berminat untuk membangkitkan kembali destinasi ini. Pertemuan yang sempat memicu optimisme publik itu kini justru menyisakan tanda tanya besar.

​Hingga hari ini, kelanjutan dari pertemuan tersebut bak ditelan bumi. Tidak ada kabar progres, dan tidak ada kejelasan apakah para investor tersebut mundur atau apa alasanya. Fenomena datang, lihat, lalu menghilang, ini tentu menjadi catatan merah bagi iklim investasi pariwisata di Boalemo.

​​​Kasus Pulau Cinta Boalemo adalah pelajaran mahal. Viral dan mendunia itu mudah, namun merawat, mempertahankan kualitas, dan menjaga kepercayaan investor adalah ujian yang sesungguhnya.

​Pulau Cinta tidak boleh dibiarkan menjadi “mantan” destinasi indah yang hanya hidup dalam memori foto-foto lama. Masih ada harapan agar “hati” yang patah di Teluk Tomini ini bisa disembuhkan kembali. Namun, itu semua butuh aksi nyata, bukan sekadar janji politik di masa jabatan atau foto jabat tangan di ruang rapat.

​Jangan biarkan ikon wisata Boalemo ini benar-benar terkubur dalam sejarah, menyisakan tiang-tiang beton kesepian yang meratapi ketidakpastian di tengah lautan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *