POHUWATO,HARIANPOST.ID– Kawasan hutan dan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Singgopi di wilayah Popayato, Kabupaten Pohuwato, kembali menghadapi ancaman serius.
Aktivitas pembukaan lahan menggunakan alat berat untuk kepentingan pertambangan ilegal dilaporkan masif merambah kawasan tersebut.
Dampaknya kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat setempat menyusul kembalinya kekeruhan air di DAS Popayato.
Pencemaran ini memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Pasalnya, air permukaan dari DAS Popayato merupakan sumber utama kebutuhan sehari-hari warga. Situasi ini dinilai semakin kritis mengingat kondisi saat ini menghadapi musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino.
“Air sungai kini berubah keruh. Ada alat berat tambang yang mulai beraktivitas di bagian hulu, tepatnya di daerah Singgopi,”ungkap Narasumber yang minta namanya untuk tidak disebutkan, kepada Harianpost.id, Kamis, 20 Agustus 2026.
Kegiatan pertambangan dengan alat berat itu disebut dikendalikan oleh ( A ) dan (W). A diketahui adalah pengawas kegiatan tambang, sedangkan W adalah pemodal.
Narasumber ini mengaku bahwa dirinya tidak anti dengan kegiatan pertambangan. Hanya saja, dalam kondisi kemarau panjang saat ini, pelaku pertambangan diminta bersikap lebih bijak dan memikirkan nasib banyak orang, ketimbang memikirkan nasib dirinya sendiri.
“Air ini adalah sumber kehidupan dan menjadi kebutuhan dasar oleh banyak orang. Sehingganya alangkah lebih baik jika pelaku pertambangan di Singgopi mencari kawasan lain yang memang sudah disiapkan sebagai kawasan pertambangan,”harapnya.












