GORONTALO,HARIANPOST.ID- Kabar gembira datang dari dunia teknologi dan pendidikan Gorontalo. Fandli Supandi, seorang dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Sultan Amai Gorontalo, baru saja membuat gebrakan dengan meluncurkan Manjonongki, sebuah aplikasi kasir dan manajemen kafe-restoran yang kini siap menjadi solusi bagi para pelaku usaha kuliner.
Ia juga telah mengelola Konsep Syndrome Coffee n Eatery selama enam tahun. Perpaduan pengalaman sebagai akademisi dan pengusaha tersebut menjadi fondasi utama lahirnya Manjonongki.
Menurut Fandli, selama mengelola usahanya ia menemukan berbagai kendala yang hampir selalu dialami pemilik kafe dan restoran, mulai dari antrean pesanan saat jam sibuk, selisih kas di akhir pergantian shift, pengelolaan stok bahan baku yang kurang efektif, hingga pencatatan laporan keuangan yang memakan banyak waktu.
“Sebagai dosen saya terbiasa menganalisis persoalan secara sistematis, sementara sebagai pemilik usaha saya mengalami langsung berbagai tantangan tersebut setiap hari. Dari perpaduan itulah Manjonongki lahir, bukan hanya berdasarkan teori, tetapi benar-benar dibangun dari kebutuhan di lapangan,” ujarnya, Rabu, 1 Juli 2026.
Aplikasi yang dirancang Dosen IAIN Sultan Amai Gorontalo ini menawarkan berbagai fitur yang mendukung pengelolaan bisnis kuliner secara menyeluruh. Dia mengkalaim sistem ini mampu mengintegrasikan pencatatan pesanan, Kitchen Display System (KDS), pengelolaan stok otomatis, laporan penjualan, analisis laba, pencatatan pajak, monitoring kas, hingga penggajian karyawan dengan slip gaji digital dalam satu platform.
Inovasi yang dihadirkannya ini tentu membantu pemilik usaha tdan menghemat waktu dari melakukan perhitungan manual. Data transaksi dapat dipantau secara real time melalui perangkat yang terhubung, termasuk dari telepon genggam.
Fandli menegaskan bahwa aplikasi tersebut telah digunakan secara langsung di Konsep Syndrome Coffee n Eatery sebelum dipasarkan kepada masyarakat. Dengan demikian, setiap fitur yang tersedia telah melewati proses evaluasi dan penyempurnaan berdasarkan kebutuhan operasional sehari-hari.
“Karena saya sendiri yang menggunakannya, saya ingin memastikan aplikasi ini mudah dipahami oleh kasir, pelayan maupun bagian dapur, bukan hanya oleh orang yang memiliki latar belakang teknologi informasi,” katanya.
Peluncuran Manjonongki juga menjadi bukti bahwa inovasi teknologi tidak hanya lahir di kota-kota besar, tetapi dapat berkembang dari daerah melalui kolaborasi antara dunia akademik dan dunia usaha. Sebagai produk asli Gorontalo, aplikasi ini diharapkan mampu membantu digitalisasi pengelolaan kafe, warung kopi, restoran, dan usaha kuliner lainnya di berbagai daerah di Indonesia.
Dengan hadirnya Manjonongki, Fandli berharap semakin banyak pelaku UMKM kuliner yang mampu meningkatkan efisiensi usaha, memperbaiki tata kelola keuangan, serta mengambil keputusan bisnis berdasarkan data yang akurat.
“Harapan saya sederhana, semoga usaha-usaha kuliner di Gorontalo maupun di seluruh Indonesia dapat berkembang lebih baik melalui pengelolaan yang modern, efektif, dan berbasis teknologi,” harapnya.












