POHUWATO, HARIANPOST.ID – Wajah Terminal Marisa yang seharusnya menjadi pusat denyut nadi transportasi di Kabupaten Pohuwato kini berubah drastis. Fasilitas publik yang diharapkan menjadi lumbung Pendapatan Asli Daerah (PAD) tersebut, justru beralih fungsi menjadi pasar malam atau wahana hiburan Hoya-hoya.
Kondisi ini sontak memantik reaksi keras dari Ketua Komisi III DPRD Pohuwato, Nasir Giasi. Saat meninjau lokasi pada Jumat, 27 Februari 2026, Nasir tak mampu menyembunyikan kekecewaannya melihat aset daerah yang justru digunakan di luar peruntukannya tanpa regulasi yang jelas.
Menurut Nasir, pengalihan fungsi ini bukan sekadar masalah estetika atau keramaian semata, melainkan adanya indikasi kuat kebocoran PAD yang cukup signifikan. Ia menduga pemanfaatan lahan terminal untuk hiburan malam tersebut sarat dengan praktik pungutan liar (pungli).
“Sangat disayangkan, terminal yang seharusnya menjadi target PAD kita justru jadi tempat hoya-hoya. Kesannya banyak pungli di sana. Ini adalah kebocoran PAD yang terjadi lagi dan tidak boleh dibiarkan,” tegas Nasir dengan nada geram.
Nasir mensinyalir bahwa uang retribusi yang ditarik dari para pedagang maupun pengelola wahana tidak masuk ke kas daerah, melainkan mengalir ke kantong oknum tak bertanggung jawab. Hal ini dianggap sebagai preseden buruk bagi pengelolaan aset di Bumi Panua.
Menyikapi polemik ini, Komisi III DPRD Pohuwato tidak tinggal diam. Dalam waktu dekat, mereka berencana memanggil pihak-pihak terkait, terutama Dinas Perhubungan (Dishub), untuk memberikan klarifikasi mengenai izin pemanfaatan lahan terminal tersebut.
Nasir menegaskan, jika ditemukan adanya penyelewengan dalam praktik di lapangan, DPRD mendesak agar aktivitas hiburan tersebut segera ditertibkan.
“Fungsi terminal harus dikembalikan sebagaimana mestinya. Jangan sampai aset daerah dijadikan ajang cari untung oknum tertentu dengan mengorbankan kepentingan publik,” pungkasnya.












