BOALEMO, HARIANPOST.ID- Operasi penertiban Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Molili’ulo KM 43, Desa Tangga Barito, Kabupaten Boalemo, diduga kuat hanya menjadi angin lalu bagi para pelaku ilegal.
Belum genap dua minggu pasca penertiban oleh Polres Boalemo pada 8 Juli lalu, aktivitas pembalakan dan pengerukan lingkungan tersebut kini dilaporkan kembali bergeliat. Dugaan kuat ini muncul setelah empat unit alat berat (ekskavator) baru dilaporkan berhasil menyusup masuk ke lokasi tambang ilegal.
Ironisnya, kucing kucingan ini terjadi justru di saat publik tengah menanti keseriusan aparat dalam menuntaskan kasus tersebut.
Kepala Desa Tangga Barito, Husin Pomolango, mengonfirmasi bahwa pergerakan alat berat tersebut terdeteksi masuk melalui wilayah Wonosari sekitar lima hari lalu.
”Lima hari kemarin sudah bertambah lagi alat berat sejumlah empat unit. Mereka masuk lewat Wonosari,” ungkap Husin saat dikonfirmasi, Kamis (17/7/2026).
Efektivitas Penegakan Hukum Dipertanyakan
Kembalinya alat berat ke lokasi PETI Molili’ulo ini memicu pertanyaan besar terkait komitmen dan ketegasan Aparat Penegak Hukum (APH) dalam memberantas mafia tambang ilegal di Boalemo.
Sebelumnya, dalam operasi penertiban tanggal 8 Juli 2026, dari belasan alat berat yang beroperasi, aparat dilaporkan hanya menyita empat unit ekskavator. Dari empat unit tersebut, baru tiga unit yang berhasil dievakuasi ke Mapolres Boalemo, sementara satu unit lainnya ditinggalkan di tengah jalan dengan alasan mengalami kerusakan.
Masyarakat menilai, jika celah masuknya alat berat baru tidak ditutup dan para aktor intelektual di balik PETI ini tidak ditindak tegas, maka operasi penertiban hanya akan menjadi seremoni tanpa dampak jera.
Di sisi lain, Husin Pomolango menegaskan bahwa perlawanan keras dari pihak pemerintah desa dan masyarakat Tangga Barito terhadap PETI sama sekali tidak ditunggangi oleh kepentingan politik maupun bisnis pihak tertentu.
”Kami sekarang berjuang untuk menolak PETI ini tidak ada tendensi apa-apa, murni demi masa depan anak-cucu. Kami tidak punya modal apa apa selain kepedulian lingkungan,” tegas Husin.
Hingga berita ini diterbitkan, media masih terus berupaya menghubungi pihak Polres Boalemo untuk mendapatkan konfirmasi lebih lanjut.


