Pemkab Pohuwato

Krisis Air Landa Ribuan Hektare Sawah, Saipul Mbuinga Perjuangkan Program JIAT Miliaran Rupiah

×

Krisis Air Landa Ribuan Hektare Sawah, Saipul Mbuinga Perjuangkan Program JIAT Miliaran Rupiah

Sebarkan artikel ini
Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga (Kemeja merah) didampingi Kadis Pertanian, bersama Anggota TNI, Pemerintah Kecamatan, Penyuluh Pertanian Hadiri Tanam Serempak (Gertam) Padi dengan metode Pertanian Modern Advanced Agricurtural System atau PM-AAS, Kamis, 30 Juli 2026, di Persawahan Buntulia Utara, Kecamatan Buntulia.
Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga (Kemeja merah) didampingi Kadis Pertanian, bersama Anggota TNI, Pemerintah Kecamatan, Penyuluh Pertanian Hadiri Tanam Serempak (Gertam) Padi dengan metode Pertanian Modern Advanced Agricurtural System atau PM-AAS, Kamis, 30 Juli 2026, di Persawahan Buntulia Utara, Kecamatan Buntulia.

POHUWATO,HARIANPOST.ID- Diperhadapkan dengan masalah kekeringan, petani padi sawah di Buntulia dan Duhiada’a, Kabupaten Pohuwato, memilih untuk tidak menyerah. Meskipun dengan sumber daya terbatas, sejumlah petani tetap memaksa melakukan penanaman di tengah ancaman kekeringan tersebut.

Selain karena faktor iklim, masalah sedimentasi yang menumpuk di jaringan irigasi disebut turut berkontribusi terhadap kurangnya pasokan air untuk mengairi persawahan. Masalah ini bukanlah masalah baru. Petani di wilayah ini sudah berulang- ulang menyampaikan permasalahan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Pohuwato dan Pemerintah Provinsi Gorontalo.

Terhadap masalah tersebut, Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga menyampaikan bahwa dirinya tidak tinggal diam. Kata Bupati, pihaknya telah melakukan audiens bersama Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengatasi masalah ini lewat program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT).

Hal itu disampaikan Saipul saat menghadiri Gerakan Tanam Serempak (Gertam) Padi dengan metode Pertanian Modern Advanced Agricurtural System atau PM-AAS, Kamis, 30 Juli 2026, di Persawahan Buntulia Utara, Kecamatan Buntulia.

Sistem JIAT tersebut dijelaskan Bupati adalah suatu model pertanian dengan memanfaatkan air tanah, dan air tersebut akan di tampung dalam bak penampungan. Dan anggaran untuk program ini terbilang besar, yakni mencapai Miliar rupiah.

“Kami memperjuangkan ini, dan mudah – mudahan program JIAT untuk 6 titik itu akan dimulai Agustus. Jadi diperkirakan untuk satu JIAT dapat mengirimkan 10 hektare sawah,”ungkap Bupati.

Permasalahan air tersebut turut berdampak serius pada 2.200 hektare persawahan Buntulia dan Duhiadaa. Dari total luasa persawahan tersebut, yang bisa ditanami hanya sekitar 100 hektare.

“Dari 2.200 hektare lahan persawahan Buntulia – Duhiada’a, yang baru bisa ditanam itu baru sekitar 100 hektare, karena persoalan air,”terangnya.

Terhadap berbagai masalah ini, Sapul mengatakan bahwa dirinya tidak akan tinggal diam. Berbagai upaya pun sudah dilakukan, salah satunya adalah pengangkatan sedimentasi. Namun, dirinya kata Saipul melihat bahwa solusi persawahan di Buntulia dan Duhiadaa, jauh lebih kompleks, sehingga upaya yang harus dihadirkan adalah tidak hanya dengan melakukan pengangkatan sedimentasi.

“Semoga solusi yang kami hadirkan lewat program JIAT ini dapat menjawab keresahan masyarakat petani sawah di Buntulia dan Duhiadaa,”harapnya.

Untuk diketahui, dalam gerakan tanam serempak Pertanian Modern Advanced Agricurtural System atau PM-AAS ini juga dihadiri, Kepala Dinas Pertanian Pohuwato, TNI, Pemerintah Kecamatan, Pemerintah desa, kelompok tani, dan penyuluh pertanian.

Pertanian dengan metode PM-AAS sendiri merupakan model pertanian modern dengan menggunakan alat mesin Pertanian terkini, dan juga menggunakan sistem tanam yang dapat mendokrak produktifitas pertanian.

Metode ini disebut sebagai langkah strategsi dalam mendorong transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih efisien, adabtif dan berkelanjutan.