POHUWATO,HARIANPOST.ID- Sejumlah tenaga pendidik di Sekolah Dasar Negeri (SDN 02) Duhiada’a, Kabupaten Pohuwato, keluhkan sikap kepala sekolah yang dinilai kurang pantas.
Kepala SDN 02 Duhiada’a, Ismail Hippy, disebut arogan, otoriter, hingga diduga melakukan kekerasan verbal terhadap sejumlah tenaga pendidik. Kepada Komisi III DPRD Pohuwato, para tenaga pendidik ini melaporkan bahwa tindakan tersebut sudah sering dilakukan oleh kepala sekolah. Hal itu disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP), Senin, 24 Agustus 2026, di Ruang Rapat DPRD.
Rapat tersebut dipimpin Ketua Komisi III, Nasir Giasi, didampingi anggota, Mohamad Afif, Yuliani Rumampuk, Ismail Samarang dan Idris Kadji, serta dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Pohuwato, Arman Mohammad, Kepala SDN 02 Duhiada’a dan tenaga pendidik.
Bahkan, para guru ini mengaku sudah pernah melaporkan situasi ini kepada Dinas Pendidikan. Namun, mereka menyayangkan sikap yang diambil Dinas Pendidikan hanya melakukan mediasi.
“Kepala sekolah ini melakukan tindakan kurang pantas dan arogan. Dan tidak saja itu, dia juga sering mengeluarkan pernyataan yang bernada ancaman. Di mana dia mengatakan tidak mau menandatangani dokumen – dokumen atau administrasi yang berkaitan dengan kepentingan kami para guru,”ungkap tenaga pendidik kepada Komisi III.
Sedangkan tenaga pendidik lain juga melaporkan bahwa dirinya pernah mendapatkan kekerasan verbal dari kepala sekolah. Dengan bercucuran air mata, tenaga pendidik ini menyampaikan kepada DPRD, pernah disebut gila oleh Kepala Sekolah.
“Beliau ini sering menekan kami, dan bahkan saya pernah dikatai biongo (baca : gila),” ungkap tenaga pendidik mencurahkan keresahannya kepada Komisi III DPRD Pohuwato.
Parahnya lagi, tindakan kurang pantas kepada tenaga pendidik itu disebut pernah dilakukan kepala sekolah di hadapan para siswa.
Sementara itu, Kepala Sekolah SDN 02 Duhiada’a membantah hal tersebut. Bukan arogan ataupun otoriter, ia menyebut sikapnya itu adalah bentuk ketegasan sebagai Kepala Sekolah.
“Otoriter itu kalau saya tidak mau mendengarkan masukan ataupun kritikan dari teman-teman guru. Selama ini kan saya selalu ajak kalian diskusi dan minta masukan dalam setiap evaluasi di sekolah. Dan bagi yang berkinerja kurang baik itu yang saya dorong untuk bisa dicapai. Tapi, karena karakter saya begini, saya dianggap otoriter dan arogan,”tegas Ismail Hippy membantah.
Dalam RDP, Kepala Sekolah SDN 02 Duhiada’a berulang-ulang menekankan bahwa tenaga pendidik sudah mengenal karakternya.
“Kalian sudah kenal saya kan ? Kalian tahu karakter saya memang begini,”tegasnya.
Menyikapi diskusi yang berkembang, Ketua Komisi III Nasir Giasi menegaskan bahwa DPRD belum bisa mengambil kesimpulan terhadap masalah yang muncul di SDN 02 Duhiada’a tersebut. Nasir bilang, dirinya sudah banyak mendapatkan keluhan, baik dari tenaga pendidik, hingga orang tua siswa.
Dirinya juga menyentil Dinas Pendidikan yang menurutnya takut bertindak tegas terhadap kepala sekolah. Padahal, kepala sekolah tersebut sudah sering diadukan ke Dinas Pendidikan.
“Saya heran Dinas Pendidikan ini tidak mau mengambil sikap tegas kepada kepala sekolah ini meskipun sudah banyak aduan. Kalau kepala sekolah lain atau tenaga pendidik lain yang bermasalah, pasti sudah ditindaki dengan alasan dapodik. Ini juga saya mewanti kepada Dinas Pendidikan untuk tidak menjadikan dapodik sebagai alasan menindaki guru atau kepala sekolah, hanya karena like dan dislike,”tegas Nasir Giasi.
Terkait aduan para tenaga pendidik itu, Nasir bilang dirinya belum bisa mengambil kesimpulan. Tapi, ia memastikan akan melakukan upaya serius terhadap aspirasi yang disampaikan para tenaga pendidik.
“SDN 02 Duhiada’a masih dalam pantauan Komisi III. DPRD akan menyusun rekomendasi dan melihat di mana letak kekeliruan atas masalah yang terjadi. Apakah masalah ini terletak di kepala sekolahnya, di gurunya, atau di Dinas Pendidikannya. Ini yang masih akan kita pantau,”terangnya.












