BONEBOL,HARIANPOST.ID– Menghadapi ancaman kekeringan yang berpotensi menyusutkan pasokan air irigasi, Komisi Irigasi Kabupaten Bone Bolango bergerak cepat memperkuat koordinasi lintas sektor.
Langkah ini diambil untuk memastikan keberlangsungan usaha tani dan menjaga produktivitas padi tetap stabil.Upaya antisipatif tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Komisi Irigasi yang digelar di Aula Bappeda Litbang Kabupaten Bone Bolango, Rabu, 14 Oktober 2026.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari Rakor Komisi Irigasi tingkat Provinsi Gorontalo.
Keterbatasan pasokan air irigasi menjadi ancaman nyata bagi sektor pertanian lokal, terutama bagi petani yang menggantungkan pola tanamnya pada jaringan irigasi. Tanpa penanganan terencana, kondisi ini dinilai berisiko memicu gagal tanam hingga penurunan produksi pangan.
Untuk merumuskan strategi penanganan yang efektif dan tepat sasaran, Rakor ini menghadirkan tiga instansi kunci sebagai narasumber, yakni Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II, BMKG Gorontalo, serta Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Provinsi Gorontalo.
Dalam pemaparannya, BWS Sulawesi II berfokus pada strategi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air. BMKG Gorontalo memberikan proyeksi iklim serta pemetaan potensi titik kekeringan, sementara BBRMP memaparkan penerapan teknologi pertanian modern agar penggunaan air di tingkat petani lebih efisien.
Tak hanya itu, agenda rapat juga dirangkaikan dengan sosialisasi Pengelolaan Modernisasi dan Adaptasi Air Pertanian (PMAAS). Sosialisasi ini bertujuan memperkuat pemahaman para pemangku kepentingan agar sektor pertanian daerah lebih adaptif terhadap perubahan iklim ekstrem.
Melalui rakor ini, Komisi Irigasi Kabupaten Bone Bolango berkomitmen mempertegas prioritas pembagian air irigasi, meningkatkan kesiapsiagaan petani, serta mengawal keberlanjutan musim tanam demi menjaga ketahanan pangan di Daerah Bumi Kabila tersebut.












