BONEBOL,HARIANPOST.ID- Ketua TP PKK Bone Bolango, Ruwaida Ismet Mile, menegaskan agar pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini dengan memastikan keluarga sasaran mendapatkan perhatian dan pendampingan yang konsisten.
Hal itu sebagai wujud upaya pencegahan stunting di Kabupaten Bone Bolango. Ia tidak ingin, penanganan stunting berhenti pada kegiatan seremonial semata.
Karena itu, program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) diharapkan mampu menjadi gerakan nyata yang memberikan perhatian, pendampingan, dan pengawalan secara berkelanjutan kepada keluarga yang berisiko stunting.
Menurutnya, keberadaan orang tua asuh dalam program Genting harus diwujudkan melalui kepedulian nyata terhadap kondisi keluarga yang didampingi.
“Kalau saya, cegah stunting itu harus dari awal,” ujar Ruwaida saat menghadiri kegiatan Program Genting tingkat Kabupaten Bone Bolango tahun 2026 di BPU Tapa, Kamis, 10 September 2026.
Ruwaida mengatakan, pencegahan stunting membutuhkan proses yang berkelanjutan dan tidak dapat dilakukan secara instan. Karena itu, keterlibatan orang tua, masyarakat, pemerintah, serta berbagai pihak lainnya sangat dibutuhkan untuk memastikan keluarga yang menjadi sasaran benar-benar mendapatkan dukungan.
Ia juga menekankan agar setiap intervensi yang diberikan tidak hanya berhenti pada kehadiran keluarga di fasilitas layanan kesehatan. Dukungan tersebut harus terus dipantau dan dikawal sehingga benar-benar diterima serta diterapkan oleh keluarga dalam kehidupan sehari-hari.
“Semangat orang tua asuh harus dibangun dari kepedulian terhadap keluarga. Sebab, semakin dini perhatian diberikan, semakin besar peluang risiko stunting dapat dicegah sebelum berdampak pada tumbuh kembang anak,” tegasnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Gorontalo, Tenny Calvenny Soriton, menegaskan bahwa pelaksanaan Genting membutuhkan kekuatan kolaborasi dari seluruh stakeholder.
Menurut Tenny, Genting merupakan salah satu program prioritas BKKBN yang menyasar keluarga berisiko stunting. Oleh karena itu, penanganannya tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah maupun satu instansi tertentu.
“Ini bukan suatu pertemuan yang rutin atau seremonial. Diharapkan di pertemuan ini ada komitmen dari kita bersama,” kata Tenny.
Ia menjelaskan, pemerintah, pelaku usaha, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai unsur lainnya harus mengambil peran dalam memastikan keluarga sasaran mendapatkan perhatian dan pendampingan secara nyata.
“Kalau stunting hanya ditangani oleh satu instansi atau diserahkan kepada Bupati sendiri, akan sulit. Kita harus berkolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, tokoh agama dan tokoh masyarakat,” ujarnya.
Tenny pun mengapresiasi langkah Bupati Bone Bolango yang telah mendorong keterlibatan berbagai stakeholder dalam pelaksanaan Program Genting. Ia berharap pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai agenda formal, tetapi menjadi titik awal untuk memperkuat komitmen dan membangun gerakan bersama dalam menekan risiko stunting di Bone Bolango.
Dengan kolaborasi yang kuat dan pendampingan yang dilakukan sejak dini, Program Genting diharapkan mampu memastikan keluarga berisiko stunting tidak berjalan sendiri, sekaligus memperkuat upaya pemerintah dalam menciptakan generasi Bone Bolango yang sehat dan berkualitas.












