Pemkab Boalemo

Misi KTNA Boalemo Bawa ‘Suara Akar Rumput’ ke Panggung Penas XVII

×

Misi KTNA Boalemo Bawa ‘Suara Akar Rumput’ ke Panggung Penas XVII

Sebarkan artikel ini
Ketua KTNA Boalemo, Yanis Pahrun.
Ketua KTNA Boalemo, Yanis Pahrun.

​BOALEMO, HARIANPOST.ID- Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan ke-XVII di Kabupaten Gorontalo bukan sekadar ajang kumpul-kumpul biasa bagi Kontingen Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Boalemo.

Di balik persiapan matang memboyong ratusan delegasi, ada misi besar yang dibawa, yaitu menyuarakan jeritan hati petani dan nelayan yang selama ini terhimpit di lapangan. Jumlah peserta yang mengikuti penas, terdiri dari ​37 peserta utama, ​105 peserta pendamping, ​82 peserta peninjau.

​Ketua KTNA Boalemo, Yanis Pahrun, menyampaikan bahwa Boalemo tidak muluk-muluk mengejar piala atau target kompetisi. Fokus kami adalah memanfaatkan panggung nasional ini sebagai kesempatan untuk menyampaikan aspirasi para petani dan nelayan.

“Dari sini kita ingin menyerap pengalaman dan informasi yang bersifat nasional untuk kemajuan daerah,” ucap Ketua KTNA Boalemo, Yanis Pahrun ketika dihubungi, Kamis 4 Juni 2026.

Yanis mengatakan, ​para peserta utama ini dijadwalkan akan berhadapan langsung dalam agenda strategis, mulai dari Temu Wicara dengan Presiden RI, berdialog dengan Menteri Pertanian serta Menteri Kelautan dan Perikanan, hingga membangun jaringan dengan pengusaha agrobisnis nasional dan delegasi petani se-ASEAN.

“​Meski agenda resmi dipenuhi dengan diskusi taktis dan transfer teknologi, KTNA Boalemo berkomitmen untuk tetap menolak menutup mata dari realita pahit yang dihadapi para petani dan nelayan di tingkat bawah,” kata Yanis Pahrun.

Menurut Yanis ​ada dua isu krusial yang diadukan langsung oleh konstituen di Boalemo dan akan disuarakan lantang di forum Penas, seperti petani kerap gigit jari karena pupuk bersubsidi mendadak sesulit di pasaran dan pengecer justru saat tanaman sangat membutuhkan pemupukan.

Sebab masalah pupuk diperparah oleh sulitnya akses BBM bersubsidi, yang tidak hanya memukul operasional nelayan di laut, tetapi juga melumpuhkan rantai pasokan logistik pertanian.

​”Isu kelangkaan krusial ini menjadi perhatian serius. Kita tidak bisa diam. Momentum Penas ini harus menjadi jembatan agar pemerintah pusat mendengar langsung dan memberikan jalan keluar yang nyata,” tegas Yanis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *