Pemkab Boalemo

Benih Beli Sendiri, Pupuk Langka: Petani Jagung Boalemo Terancam Gagal Panen

×

Benih Beli Sendiri, Pupuk Langka: Petani Jagung Boalemo Terancam Gagal Panen

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi petani jagung
Ilustrasi petani jagung

BOALEMO, HARIANPOST.ID– Ancaman gagal panen membayangi petani jagung di Desa Botumoito, Kecamatan Botumoito, Boalemo. Setelah terpaksa membeli benih sendiri karena tak dapat bantuan pemerintah, kini mereka kesulitan mendapatkan pupuk subsidi meski tanaman sudah berumur satu bulan dan masuk masa pemupukan.

“Jagung kami sudah sebulan, harusnya dipupuk. Tapi begitu datang di pengecer, pupuk habis. Padahal orang-orang sampai berebut, yang antre saja tidak dapat,” ucap Petani di Botumoito, Selasa, 2 Juni 2026.

Petani Botumoito menegaskan, ketergantungan petani sangat tinggi terhadap pupuk. Jika tanaman jagung tidak dipupuk tepat waktu, hasil panen dipastikan anjlok.

“Kalau tanaman tidak dipupuk, maka petani siap-siap gagal panen. Kami hanya berharap pemerintah dan instansi terkait sebagai penanggung jawab distribusi pupuk di Gorontalo, khususnya Boalemo, segera atasi masalah ini,” tegaskan yang berharap ketersediaan pupuk.

Menanggapi hal itu, Petugas Lapangan Pupuk Indonesia Kabupaten Boalemo, Rahman Is Tamrin, menyebut stok pupuk untuk wilayah Boalemo sebenarnya mencukupi.

“Stok pupuk aman, tapi kami saat ini terkendala kendaraan pengangkut yang kesulitan mengisi solar. Jadi distribusi ke kecamatan tersendat,” jelas Rahman.

Ia menambahkan, distribusi pupuk di setiap kecamatan sudah terjadwal dan berdasarkan data petani dari penyuluh pertanian yang terdaftar di sistem. Kuota tiap kecamatan pun sudah ditetapkan pemerintah.

“Petani yang kehabisan pupuk di kecamatannya tidak boleh membeli di kecamatan lain. Itu sudah aturan pemerintah,” tutur Rahman.

Fakta di lapangan berbanding terbalik dengan klaim stok aman. Petani Botumoito tetap tak kebagian pupuk saat masa kritis pemupukan. Kondisi ini memicu desakan agar pemerintah daerah dan Pupuk Indonesia segera membenahi jalur distribusi.

Sebab, jika terlambat 1-2 minggu saja, pertumbuhan jagung terganggu dan hasil panen turun drastis. Kerugian langsung dirasakan petani yang sudah keluar modal beli benih sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *