Oleh : Noldi Katili
Nama Muslich Mile kian mengemuka dalam percaturan politik Gorontalo. Sebagai putera dari Ismet Mile-tokoh yang telah lama dikenal luas berkat rekam jejak kepemimpinan dan pengaruh politiknya-Muslich Mile tidak sekadar mewarisi nama besar, tetapi juga karakter kepemimpinan yang tegas, merakyat, dan penuh perhitungan dari Sang Ayah.
Ismet Mile dikenal sebagai figur yang memiliki basis massa kuat dan diterima lintas kalangan. Ciri kepemimpinan yang komunikatif, dekat dengan rakyat, serta piawai membangun jaringan politik menjadi modal sosial yang besar. Dalam diri Muslich Mile, publik melihat refleksi karakter tersebut. Ia tampil dengan gaya yang santun namun berwibawa, tegas dalam prinsip, tetapi tetap terbuka terhadap aspirasi masyarakat.
Pengalaman politik Muslich Mile bukanlah sesuatu yang instan. Ia merupakan mantan anggota DPRD Provinsi Gorontalo, sebuah posisi strategis yang memberinya pemahaman mendalam tentang tata kelola pemerintahan daerah, dinamika legislasi, serta kebutuhan riil masyarakat. Pengalaman tersebut membentuknya menjadi politisi yang memahami proses, tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mengerti bagaimana kebijakan dirumuskan dan diperjuangkan.
Saat ini, sebagai Wakil Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan Provinsi Gorontalo bidang pemenangan pemilu wilayah Bone Bolango, Muslich Mile menunjukkan kapasitas organisatoris yang matang. Ia aktif melakukan konsolidasi internal partai, memperkuat struktur hingga tingkat akar rumput, serta merancang strategi pemenangan yang terukur dan realistis.
Yang membuat pria yang akrab disapa Uchi Mile ini menonjol adalah kemampuannya menjalin komunikasi lintas partai. Ia dikenal memiliki kedekatan dengan para politisi dari berbagai latar belakang politik. Dalam dunia yang kerap diwarnai rivalitas tajam, Muslich tampil sebagai figur yang cair dan inklusif. Gaya komunikasinya yang terbuka, lugas, dan tanpa basa-basi membuatnya mudah diterima semua pihak. Ia tidak membangun sekat, melainkan jembatan dialog.
Elektabilitasnya pun tumbuh secara organik. Para guru melihat komitmennya terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Sampai-sampai para guru memberinya gelar Sang Pemerhati Pendidikan. Para nelayan dan petani menilainya sebagai sosok yang peka terhadap persoalan ekonomi kerakyatan dan keberlanjutan mata pencaharian mereka. Sementara itu, kalangan milenial dan Gen Z melihat Muslich Mile sebagai sosok yang relevan dengan perkembangan zaman—mampu berdialog secara setara dan memahami aspirasi generasi baru.
Kedekatan dengan generasi muda ini tidak menghilangkan respek dari kalangan senior. Justru, kombinasi antara pengalaman sebagai mantan legislator, peran strategis di partai, serta warisan politik sang ayah menjadikannya figur yang komplet: matang dalam pengalaman, kuat dalam jaringan, dan segar dalam pendekatan.
Kemiripannya dengan Ismet Mile dalam membaca peta politik menjadi nilai tambah tersendiri. Ia mampu memetakan kekuatan, membangun aliansi strategis, dan menjaga stabilitas dukungan dengan pendekatan yang elegan. Namun, Muslich Mile tidak sekadar berjalan di jejak sang ayah yang kini menjabat sebagai Bupati Bone Bolango, namun Muslich Mile juga membangun identitasnya sendiri sebagai politisi yang adaptif dan komunikatif.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya soal nama besar, melainkan tentang kemampuan menjaga amanah dan menjawab harapan rakyat. Dengan pengalaman sebagai mantan anggota DPRD, posisi strategis di partai, jaringan lintas politik, serta penerimaan luas dari berbagai lapisan masyarakat, Muslich Mile tampak sedang menapaki jalannya sebagai penerus kejayaan Ismet Mile, sekaligus sebagai pemimpin dengan karakter dan kekuatan yang lahir dari dirinya sendiri.









