BOALEMO,HARIANPOST.ID– Penyebaran penyakit malaria di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, semakin mengkhawatirkan. Hingga Maret 2026, penyebaran malaria di wilayah itu mencapai 74 kasus.
Hal itu diungkap penanggung jawab program malaria Puskesmas Bongo II, Surmiah. Dalam kasus yang ditemukan, rata – rata pasien yang terpapar adalah berasal dari kawasan pertambangan.
“Sebagian besar kasus berasal dari aktivitas tambang. Kebanyakan penderita adalah masyarakat penambang,” ujarnya, Kamis, 16 April 2026.
Dalam kasus malaria yang dicatat Puskesmas Bongo II, wilayah dengan kontribusi kasus tertinggi berasal dari Sari Tani dan Pohuwato, dua kawasan yang dikenal memiliki aktivitas pertambangan cukup intens.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tren ini patut diwaspadai. Sebab, Pada tahun 2025, total kasus malaria mencapai 122 kasus, untuk tahun ini pihak kesehatan belum dapat memperkirakan pasti karena masih dalam periode berjalan.
Meski demikian, peningkatan kasus dalam tiga bulan pertama sudah cukup menjadi alarm dini. Situasi ini pun memunculkan pertanyaan serius di mana peran dan pengawasan dari pihak berwenang?
Di satu sisi, aktivitas tambang menjadi sumber penghidupan bagi sebagian masyarakat. Namun di sisi lain, dampak kesehatan yang ditimbulkan mulai menunjukkan konsekuensi nyata dan mengancam keselamatan masyarakat.
Wonosari kini berada di persimpangan antara kepentingan ekonomi dan keselamatan kesehatan masyarakat.
Tanpa langkah tegas, pengawasan ketat, serta transparansi dari pihak terkait, potensi meluasnya wabah malaria bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan ancaman yang tinggal menunggu waktu.












