SETIAP Hari Pers, kita selalu mendengar kalimat yang sama, pers adalah pilar demokrasi, pers adalah pengawas kekuasaan, pers adalah suara publik. Kalimatnya indah. Tapi di Boalemo, justru di tengah momentum Hari Pers ini, kita pantas bertanya dengan jujur, apakah pers kita masih menjalankan peran itu, atau sudah lama menyerah pada kenyamanan?
Kasus dugaan perjalanan dinas DPRD yang menyentuh uang rakyat seharusnya menjadi ujian utama bagi pers lokal. Ini bukan isu kecil. Ini bukan gosip. Ini soal tanggung jawab, transparansi, dan akuntabilitas kekuasaan. Tapi yang sering kita lihat, sorotan media justru lebih ramai pada seremoni, kunjungan, dan pernyataan normatif, sementara substansi persoalan berjalan pelan, dangkal, atau bahkan nyaris tak terdengar.
Kalau pers hanya menyalin rilis dan mengutip pernyataan tanpa menggali lebih jauh, itu bukan jurnalisme. Itu stenografi kekuasaan.
Hari Pers seharusnya jadi cermin, bukan sekadar seremoni. Cermin untuk bertanya, mengapa kasus yang menyangkut kepentingan publik bisa diperlakukan setengah hati? Mengapa pertanyaan-pertanyaan penting jarang diajukan? Mengapa kritik terasa lebih sering ditahan daripada disuarakan?
Kita paham, media di daerah hidup dalam tekanan, iklan, akses, kedekatan dengan pejabat, dan rasa “tidak enak”. Tapi sejak kapan pers dibangun untuk merasa enak? Sejak kapan jurnalisme ada untuk menjaga perasaan penguasa? Pers lahir justru untuk mengganggu yang mapan, bukan untuk mengamankannya.
Dalam konteks dugaan perjalanan dinas ini, pers seharusnya berdiri di barisan depan, mengawal proses, menekan dengan pertanyaan, dan memastikan perkara tidak dikubur oleh waktu, basa-basi, atau pengalihan isu. Diamnya pers, atau sikap setengah-setengah, hanya akan memperkuat satu hal, kecurigaan publik bahwa ada yang sedang dilindungi, atau setidaknya sedang dihindari.
Hari Pers tidak ada artinya jika pers takut pada kekuasaan. Hari Pers hanya akan jadi seremoni kosong jika media lebih sibuk menjaga hubungan baik daripada menjaga kepentingan rakyat. Karena bagi publik, yang dibutuhkan bukan ucapan selamat Hari Pers, tapi keberanian pers.
Boalemo tidak kekurangan slogan. Kita kekurangan tekanan yang jujur dan konsisten. Dan kalau pers memilih tetap jinak di tengah persoalan uang rakyat, maka jangan salahkan publik jika mulai bertanya, ini masih pers, atau sudah berubah jadi humas yang kebetulan pakai nama media?
Hari Pers seharusnya mengingatkan satu hal sederhana, pers yang takut pada kekuasaan bukanlah pilar demokrasi. Ia hanyalah dekorasi.
Terimakasih.












