BOALEMO, HARIANPOST.ID- Kontras tajam tersaji di Desa Pentadu Timur, Kecamatan Tilamuta. Di satu sisi, kawasan ini berdiri sebagai pusat urat nadi perekonomian daerah melalui Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Pelabuhan Tilamuta.
Namun di sisi lain, akses utama menuju fasilitas strategis tersebut kini kondisinya hancur lebur dan dipenuhi kubangan layaknya jalur tak bertuan.

Hancurnya lapisan aspal di jalur vital ini memicu jeritan dari para nelayan dan pelaku usaha logistik. Setiap hari, ratusan kendaraan mulai dari motor pengangkut ikan hingga truk ekspedisi bertonase besar harus bertaruh nyawa dan kendaraan demi menjaga pasokan pangan laut tetap berjalan.
Keluhan tajam datang dari salah seorang pelaku usaha logistik perikanan yang ditemui di lokasi. Ia menyayangkan sikap abai pemerintah daerah terhadap jalur penghasil pundi-pundi rupiah ini.
”Ini jalan ekonomi, jalur utama uang berputar dari sektor perikanan. Kalau jalannya hancur begini, yang rugi bukan cuma sopir atau nelayan, tapi perputaran ekonomi daerah juga ikut terhambat,” ucapnya, Senin, 15 Juni 2026.
Ironisnya, TPI dan Pelabuhan Tilamuta selama ini digadang-gadang sebagai aset emas untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Boalemo.
Masyarakat nelayan mendesak kepada Pemerintah Kabupaten Boalemo beserta dinas terkait agar bisa melakukan tindakan nyata, bukan sekadar janji manis di meja rapat.
Warga menegaskan bahwa mereka membutuhkan pengaspalan ulang yang permanen, bukan sekadar penambalan darurat berbahan dasar tanah atau batu kerikil yang dipastikan langsung amblas begitu dihantam hujan.
Jika Pemda Boalemo terus menutup mata, lambat laun urat nadi perekonomian masyarakat Tilamuta dipastikan akan lumpuh.












