JAKARTA,HARIANPOST.ID — Pengoperasian Satelit Nusantara Lima (N5) milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) menandai fase penting dalam transformasi kebijakan digital Indonesia. Satelit berteknologi High Throughput Satellite (HTS) dengan kapasitas 160 Gbps tersebut tidak hanya merepresentasikan kemajuan infrastruktur telekomunikasi nasional, tetapi juga mencerminkan perubahan paradigma pembangunan digital yang semakin menempatkan konektivitas sebagai instrumen pemerataan sosial, penguatan kapasitas negara, dan pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan.
Achmad Risa Mediansyah, yang dikenal sebagai akademisi sekaligus praktisi kebijakan publik dari Sulawesi Selatan menilai bahwa kehadiran Satelit Nusantara Lima memperlihatkan konsistensi arah kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Menteri Komunikasi dan Digital dalam mempercepat pembangunan ekosistem digital nasional yang lebih inklusif dan berdaulat.
“Transformasi digital tidak dapat dipahami semata-mata sebagai modernisasi teknologi. Dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia, digitalisasi merupakan instrumen untuk memperluas akses, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta mengurangi ketimpangan struktural antardaerah,” ujarnya, Selasa, 12 Mei 2026.
Menurut Risa, langkah Kementerian Komunikasi dan Digital di bawah kepemimpinan Meutya Hafid menunjukkan arah kebijakan yang semakin progresif dalam membangun ekosistem digital nasional. Ia menilai Meutya Hafid berhasil mendorong peran Komdigi tidak lagi terbatas sebagai regulator telekomunikasi, melainkan sebagai motor penggerak transformasi digital yang mengintegrasikan pembangunan teknologi, pelayanan publik, dan penguatan ekonomi digital secara simultan.
“Yang terlihat saat ini adalah adanya upaya membangun fondasi digital jangka panjang. Pemerintah tidak hanya mengejar perluasan jaringan, tetapi mulai memikirkan kualitas konektivitas, ketahanan infrastruktur, dan dampaknya terhadap produktivitas masyarakat,” kata Risa.
Menurut dia, tantangan utama Indonesia selama ini bukan terletak pada rendahnya pertumbuhan sektor digital, melainkan pada ketimpangan distribusi akses teknologi. Dalam perspektif teori digital divide, kesenjangan konektivitas berpotensi menciptakan bentuk baru ketimpangan sosial-ekonomi karena kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses internet akan mengalami keterbatasan dalam memperoleh pendidikan, layanan kesehatan, informasi publik, dan peluang ekonomi digital.
Karena itu, pembangunan infrastruktur satelit dinilai menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan negara hingga ke wilayah 3T terdepan, terluar, dan tertinggal yang selama ini menghadapi keterbatasan infrastruktur komunikasi berbasis terestrial. Kehadiran internet berkecepatan tinggi di kawasan perifer memungkinkan terjadinya integrasi yang lebih kuat antara masyarakat lokal dan ekosistem ekonomi nasional.
Dalam kerangka teori network society yang diperkenalkan Manuel Castells, konektivitas digital merupakan elemen fundamental dalam pembentukan struktur sosial dan ekonomi modern. Negara yang mampu membangun jaringan informasi secara merata akan memiliki kapasitas lebih besar dalam meningkatkan produktivitas, inovasi, dan daya saing nasional.
Risa menilai kepemimpinan Menteri Komunikasi dan Digital juga terlihat dalam upaya memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik teknologi global. Menurut dia, penguasaan teknologi komunikasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan efisiensi ekonomi, tetapi juga dengan dimensi kedaulatan dan keamanan nasional.
“Dalam perkembangan geopolitik kontemporer, infrastruktur digital telah menjadi bagian dari instrumen kekuatan negara. Ketergantungan terhadap sistem komunikasi asing dapat menciptakan kerentanan strategis, baik dari sisi keamanan data maupun stabilitas layanan publik,” katanya.
Dari perspektif state capacity theory, kemampuan negara mengelola infrastruktur komunikasi nasional menjadi indikator penting efektivitas tata kelola pemerintahan modern. Oleh sebab itu, sinergi antara Satelit Nusantara Lima dan SATRIA-1 dipandang sebagai upaya membangun network resilience atau ketahanan jaringan nasional agar pelayanan publik tetap berjalan secara stabil dalam berbagai situasi, termasuk kondisi darurat dan bencana.
Selain itu, pengembangan infrastruktur digital berbasis satelit diproyeksikan memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Akses internet yang lebih merata memungkinkan perluasan pendidikan jarak jauh, penguatan literasi digital, pengembangan ekonomi kreatif, hingga akselerasi transformasi UMKM berbasis teknologi.
Dalam perspektif ekonomi pembangunan, konektivitas digital memiliki efek multiplikatif terhadap pertumbuhan ekonomi karena menurunkan biaya transaksi informasi, memperluas akses pasar, dan meningkatkan efisiensi distribusi pengetahuan. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur digital tidak hanya menghasilkan manfaat teknologi, tetapi juga menciptakan fondasi baru bagi pembangunan ekonomi yang lebih inklusif.
Keberhasilan pengoperasian Satelit Nusantara Lima pada akhirnya menunjukkan bahwa transformasi digital Indonesia mulai bergerak dari tahap ekspansi infrastruktur menuju konsolidasi ekosistem digital nasional. Satelit tersebut bukan hanya instrumen komunikasi di ruang angkasa, melainkan representasi dari upaya negara membangun pemerataan akses, memperkuat kedaulatan digital, dan menyiapkan fondasi pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.












