POHUWATO,HARIANPOST.ID– Hadirnya investasi pertambangan emas Pani oleh PT Merdeka Copper Gold Tbk, belum berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja yang memprioritaskan masyarakat lokal Pohuwato.
Data menunjukan bahwa tenaga kerja yang terlibat dalam proyek emas itu didominasi oleh tenaga kerja dari luar Pohuwato, dengan presentase 60 persen. Sedangkan tenaga kerja lokal Pohuwato yang dilibatkan hanya 40 persen.
Data itu diungkap Dinas Tenaga Kerja dan Trasmigrasi Kabupaten Pohuwato dalam rapat Dengar Pendapat Umum yang digelar DPRD Pohuwato, Selasa, 23 Desember 2025, di DPRD Pohuwato.
Disampaikan, bahwa ada 41 perusahaan yang terlibat dalam proyek emas pani itu, dengan total tenaga kerja mencapai 3.051 orang. Dimana 1.208 tenaga kerja atau 40 persen merupakan tenaga kerja lokal Pohuwato, dan 1.843 tenaga kerja atau sebesar 60 persen merupakan tenaga kerja dari luar Pohuwato.
Data itu sekaligus menguak komitmen palsu PT Merdeka Copper Gold yang hadir berinvestasi dan memberi harapan untuk mensejahterakan masyarakat Pohuwato.
Anggota DPRD Pohuwato Abdul Hamid Sukoli pun dalam rapat itu menyentil komitmen Direktur Pani Gold, Boyke Poerbaya Abidin, yang mengatakan akan memprioritaskan masyarakat lokal Pohuwato untuk bekerja di proyek emas Pani tersebut.
“Pak Boyke mengatakan akan memprioritaskan masyarakat lokal, tapi ini tidak direalisasikan. Bayangkan, anak – anak kami ( masyarakat Pohuwato) dibuat seperti pengemis,”tegas Abdul Hamid Sukoli.
Politisi yang memulai karier sebagai Kepala desa Taluduyunu, Kecamatan Buntulia itu juga menguak praktik tak bermoral oleh segelintir orang yang memfasilitasi tenaga kerja dari luar Pohuwato agar bisa bekerja di perusahaan PT Merdeka dengan melakukan perpindahan penduduk ke desa lingkar tambang. Ironisnya, penduduk asli Pohuwato khusunya masyarakat di sembilan desa lingkar tambang kata dia ,justru sulit dan bahkan diperlakukan seperti pengemis agar bisa diterima bekerja diperusahaan tambang tersebut.
“Anak – anak kami diperlakukan seperti pengemis, sedangkan orang yang hanya numpang KTP itu cepat diterima, dan itu bisa saya buktikan,”tegas politisi yang akrab disapa Ayah Yopin itu.
Dirinya juga mengingatkan kembali kepada pihak perusahaan untuk tidak melupakan bahwa kehadiran mereka di Pohuwato merampas hajat hidup masyarakat penambang. Banyak penambang yang diusir dari tempatnya mencari nafkah, setelah perusahaan tambang masuk ke Pohuwato.
“Hajat hidup orang tua mereka kalian rampas, terus anak – anak mereka yang melamar kerja kalian perlakuan seperti pengemis,” tegasnya mengingatkan.












