Swasembada Pangan di Ujung Tanduk, Pertanian Padi Pohuwato Butuh Solusi Cepat

POHUWATO, HARIANPOST.ID- Kondisi pertanian padi sawah di Kecamatan Buntulia – Duhiada’a, Pohuwato, semakin memprihatinkan. Belakangan, masyarakat petani di wilayah ini mengeluhkan hasil produksi padi yang tidak maksimal.  Kondisi ini dikhawatirkan berpengaruh terhadap target Pemerintah yang ingin mewujudkan swasembada pangan di Indonesia.

Di Pohuwato, Pemerintah daerah dalam beberapa kesempatan mengatakan siap mendukung program Pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan. Namun melihat kondisi pertanian sawah saat ini, Pemerintah Kabupaten Pohuwato sepertinya harus memutar otak untuk mencari solusi terbaik, agar tujuan swasembada pangan tersebut bisa tercapai.

Dalam mencapai target swasembada pangan tersebut, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian Pohuwato, Rina Ismail dan Pengelola Data Tanaman Pangan, Agus Nento saat ditemui Harianpost.id, Kamis, 11 September 2025, di ruang kerjanya, menyebut bahwa Pemerintah memberikan target tanam padi sawah kepada Pohuwato, sebanyak 11.116 Hektare (Ha).

Sampai saat ini target tanam padi sawah itu belum tercapai. Saat ini, target tanam padi sawah Pohuwato masih di kisaran 7.000an Ha.

Masalah yang Dihadapi Petani

Petani padi sawah di Buntulia dan Duhiada’a mengeluhkan hasil produksi padi yang tidak maksimal. Padahal, perawatan, termasuk pemupukan padi, rutin dilakukan.

Petani menduga, pemupukan padi tidak berjalan maksimal karena nutrisi tanah sawah yang berkurang.  Apalagi diketahui, saat ini lahan persawahan di Buntulia dan Duhiada’a telah bercampur sedimen pasir yang terbawa air.

Seperti dalam pantauan media ini di persawahan Buntulia, tampak sedimen pasir telah masuk di lahan sawah petani. Tidak hanya itu, jaringan irigasi Taluduyunu yang menjadi sumber pengairan persawahan Buntulia dan Duhiada’a kini menyempit, akibat penumpukan sedimentasi pasir di badan jaringan irigasi. Akibatnya, padi sawah milik petani menjadi kekurangan air.

Padahal jaringan irigasi tersebut pada tahun 2023 baru direhabilitasi dengan menggunakan anggaran Rp 13 Milyar. Saat itu, sebagian besar petani padi di wilayah ini tidak bertani, sementara beberapa petani memilih tetap bertani padi dengan dibantu alat pompa air. Meskipun demikian, hasil produksi padi dengan bantuan pompa air tersebut tidak berjalan maksimal.