Ketua HA IPB Pohuwato Sebut Ikan Torosiaje Aman Dikonsumsi

POHUWATO,HARIANPOST.ID- Ketua Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA IPB) Wilayah Pohuwato, Arfan Dalanggo, menegaskan bahwa ikan hasil tangkapan nelayan di Desa Torosiaje dan wilayah Teluk Tomini tetap aman untuk dikonsumsi masyarakat. Ia meminta publik tidak panik dan tidak menarik kesimpulan keliru dari penelitian tentang mikroplastik yang baru-baru ramai dibicarakan publik.

Menurut Arfan, penelitian tersebut merupakan kajian lingkungan yang bertujuan memetakan kondisi ekosistem laut, bukan penelitian keamanan pangan yang menyimpulkan ikan berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Penelitian ini tidak menyatakan ikan Teluk Tomini beracun atau tidak layak konsumsi. Tidak ada uji toksisitas pada manusia. Karena itu, sangat tidak tepat jika hasil penelitian ini dijadikan domain issue merugikan nelayan,” tegas Arfan Dalanggo.

Ia menambahkan, secara global mikroplastik merupakan isu lingkungan dunia, bukan fenomena khas Teluk Tomini. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam sejumlah laporan bersama menyatakan bahwa hingga saat ini belum ditemukan bukti ilmiah yang kuat bahwa konsumsi ikan menyebabkan risiko kesehatan signifikan akibat mikroplastik.

“FAO dan WHO menegaskan bahwa data ilmiah yang ada belum cukup untuk menyimpulkan adanya dampak kesehatan langsung pada manusia dari konsumsi ikan yang mengandung mikroplastik. Risiko terbesar justru berasal dari paparan mikroplastik melalui udara dan air minum, bukan dari ikan,” jelasnya.

Arfan juga menerangkan bahwa dalam banyak kasus, mikroplastik lebih dominan ditemukan pada saluran pencernaan ikan, bagian yang tidak dikonsumsi, serta dapat diminimalkan melalui proses pembersihan dan pengolahan ikan yang baik.

“Selama ikan dibersihkan dengan benar dan dimasak sebagaimana mestinya, ikan tetap aman dan layak dikonsumsi. Ikan tetap menjadi sumber protein penting dan bergizi bagi masyarakat,” tambahnya.

Lebih lanjut, Arfan mendorong agar hasil penelitian tersebut disikapi secara proporsional dan dijadikan dasar untuk memperkuat kebijakan pengelolaan sampah pesisir, edukasi lingkungan, dan pengawasan laut, bukan sebagai narasi yang justru menimbulkan ketakutan publik.

“Yang perlu kita perbaiki adalah sistem pengelolaan sampah dan kesadaran lingkungan. Jangan sampai penelitian lingkungan justru dimaknai keliru dan berujung pada stigma negatif terhadap ikan lokal serta mematikan mata pencaharian nelayan,” pungkasnya.

HA IPB Wilayah Pohuwato mengajak media dan masyarakat untuk bijak membaca hasil penelitian ilmiah, agar upaya menjaga kelestarian lingkungan laut dapat berjalan seiring dengan perlindungan terhadap ekonomi nelayan dan ketahanan pangan daerah.

Beberapa penelitian Mikroplastik terpapar pada ikan ditemukan di di beberapa Negara, seperti:

• Laut Mediterania; (Mussels reveal growing microplastic pollution in Greece’s prized seas By Stelios Misina, 2025)

• Jepang (Microplastic pollution of commercial fishes from coastal and offshore waters in southwestern Japan
Mitsuharu Yagi et al. Mar Pollut Bull. 2022 Jan.)

• Norwegia (Research reveals microplastic content levels in seafood
5 August 2020 the unv. Of queensland)

• Australia dan Amerika Serikat (Microplastics found in many of Oregon’s most popular fish axios portland 2025)

“Jika penelitian itu, dijadikan alasan menurunkan harga ikan Teluk Tomini, maka 90% ikan dunia diturun harganya,”tutupnya.