Nasional

Jelang Idulfitri, Cadangan Bahan Bakar Nasional Dipastikan Aman

×

Jelang Idulfitri, Cadangan Bahan Bakar Nasional Dipastikan Aman

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Gemini Ai)
Ilustrasi (Gemini Ai)

HARIANPOST.ID-Dinamika global perang Iran, Israel dan Amerika Serikat saat ini, ikut memberikan pengaruh besar terhadap ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di berbagai Negara, termasuk Indonesia.

Hadapi kondisi itu, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto instruksikan Pemerintahannya untuk menyiapkan skenario yang memungkinkan berpengaruh terhadap stabilitas energi dan ekonomi global. Hal itu ditegaskan Prabowo pada Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara Jakarta, Jumat,13 Maret 2026.

“Kita hadapi perkembangan yang terjadi secara global di kawasan Eropa dan Timur Tengah, dan ini tentunya memberi dampak kepada kita karena akan memengaruhi harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Harga BBM juga bisa memengaruhi harga makanan. Kita alhamdulillah sudah mengamankan masalah pangan yang mendasar,” ujar Presiden Prabowo dikutip dari laman Sekretariat Negara, Senin, 16 Maret 2026.

Kepada Presiden Prabowo, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan bahwa cadangan energi Nasional tetap aman, terutama menjelang idulfitri.

Bahlil menjelaskan bahwa ketersediaan BBM untuk memenuhi kebutuhan nasional saat ini masih berada di atas batas minimal cadangan nasional. Hal tersebut mencakup berbagai jenis BBM seperti RON 90, RON 92, RON 98, hingga solar dan avtur yang dinilai masih aman dalam beberapa waktu ke depan.

Seiring dengan hal itu, Bahlil menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperkuat kedaulatan energi nasional. Upaya tersebut dilakukan antara lain melalui pencampuran biodiesel serta pengembangan kilang minyak dalam negeri.

“Jadi RDMP kita selesaikan, ini cukup membantu kita, Pak. Mengurangi impor bensin kita 5,5 juta ton, sama BBM solar 3,5 juta,” pungkasnya.

Selain itu, terkait pengembangan refinery dan kilang dalam negeri menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produksi domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

“Yang pada akhirnya kemudian nanti kalau lifting kita nggak mencapai 1,6 juta, selisih antara kebutuhan crude, dan kemampuan kita lifting, itulah yang kita impor,” ujarnya.

Sedangkan terkait persediaan LPG, Bahlil gengah menyiapkan sejumlah skenario untuk memastikan pemenuhan kebutuhan nasional, termasuk melalui diversifikasi negara pemasok LPG.

“Jadi total LPG kita dari 100 persen, dari 7,6 juta impor, itu 70 persen kita ambil dari Amerika, 20 persen dari Middle East, sisanya dari negara lain seperti Australia. Dengan kondisi sekarang, yang di Middle East kita pecah lagi, untuk kita ambil kontrak jangka panjang dengan Amerika dan beberapa negara lain,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *