oleh

Bersama GP Ansor, Gus Aniq Nawawi Launching dan Bedah Kitab Nasihah As- Siyasah

POHUWATO, HARIANPOST- Pengasuh Pondok pesantren Salafiyah Safi’iyah, KH. Abdullah Aniq Nawawi menulis kitab Nasihah Ar- Rai Wa Ar- Ra’iyyah Fi As-Siyasah As-Syar’iyyah yang dilaunching dan dibedah oleh KH. Ulil Abshar Abdallah, Seorang tokoh Muslim Indonesia yang mengembangkan pemikiran tasawuf, Sabtu, 8 Oktober, 2022 pekan kemarin.

Dalam soft launching dan bedah buku tersebut, turut melibatkan PC GP Ansor Pohuwato. Ketua PC GP Ansor Pohuwato, Abdullah K. Diko pun menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada KH. Abdullah Aniq Nawawi, karena diberikan kesempatan menjadi bagian dari soft launching kitab Nasihah Ar- Rai Wa Ar- Ra’iyyah Fi As-Siyasah As-Syar’iyyah.

“ Terimakasih atas kepercayaan Gus Aniq atas kepercayaan bekerjasama dengan PC GP Ansor Pohuwato melaunching kitab, Nasihah Ar- Rai Wa Ar- Ra’iyyah Fi As-Siyasah As-Syar’iyyah, ini sebuah kebanggan bagi kami,” ucap Abduulah K. Diko.

Kitab Nasihah Ar- Rai Wa Ar- Ra’iyyah Fi As-Siyasah As-Syar’iyyah, kitab yang ditulis Kyai muda Pohuwato ini merupakan kitab yang banyak memberikan nasihat untuk para pemimpin dan masyarakat.

Kitab tersebut menghimpun 40 Hadits Nabi terkait tema politik, beserta syarah, penjelasannya. Gus Aniq menyampaikan alasan dirinya menulis kitab dengan menghimpun 40 hadits karena ingin mengikuti tradisi ulama Nahdlatul Ulama (NU) terdahulu yang menulis kitab dengan menghimpun 40 Hadits

Dalam kitab yang ia tulis, Gus Aniq membagi 40 hadits tersebut ke dalam empat bagian ; Pertama, Hadits tentang pandangan islam terhadap sistem pemerintahan dan politik. Kedua, hadits tentang nilai – nilai yang harus ada di dalam Negara Islami. Ketiga, hadits – hadits nasihat bagi pemimpin. Keempat, hadits – hadits tentang nasihat untuk rakyat.

Kyai muda Pohuwato ini di dalam kitabnya juga mengemukakan perilaku dan kebijakan Nabi Muhammad SAW. Dimana menurutnya, Nabi mengeluarkan suatu kebijakan dalam kapasitas sebagai pemimpin agama dan ada juga kebijakan yang dikeluarkan dalam kapasitas Nabi sebagai pemimpin politik.

“Kebijakan yang dikeluarkan Nabi dalam kapasitas sebagai pemimpin politik itu tidak harus diikuti bentuknya,tapi nilainya,” kata Gus Aniq.

KH. Ulil Abshar Abdallah mengaku bangga dengan kitab berbahasa arab yang ditulis KH. Aniq Nawawi. Berangkat dari karya Gus Aniq tersebut, ia memberikan pesan kepada santri, bahwa umat Islam kata Gus Ulil harus menguasai minimal dua atau tiga bahasa. Bahasa utama, bahasa Indonesia yang harus dikuasai dan digunakan dengan baik dan benar, baik dalam lisan maupun tulisan.

“Para santri harus berbahasa Indonesia yang baik, karena ini adalah bahasa kita, baik lisan maupun tulisan. Dan harus banyak membaca banyak buku – buku yang berbahasa Indonesia yang baik. Karena sekarang ini saya melihat kemorostan kemampuan bahasa Indonesia di kalangan anak muda,”pesannya

Selain bahasa Indonesia yang menjadi bahasa utama, para santri diminta menguasai bahasa Arab. Bahkan juga harus menguasai bahasa Ingris. Karena mengusai bahasa ini kata Gus Ulil menjadi kunci untuk menguasai peradaban.

Seiring dengan hal tersebut, Gus Ulil memuji kitab bahasa Arab yang ditulis Kyai muda Pohuwato, KH. Aniq Nawawi. Sejauh ini menurut Gus Ulil banyak ulama Indonesia yang ilmunya tidak diketahui oleh muslim di luar Negeri. Padahal Ulama Indonesia itu Alim sekali.

“Ilmunya tidak kalah dengan ilmu dari ulama Timur Tengah. Hanya saja ulama Indonesia tidak sempat menulis buku dan kitab., sehingga kurang dikenal,” kata Gus Ulil

“Menulis itu penting sekali. Salah satu ciri peradaban Islam adalah peradaban membaca dan menulis. Karena kalau bangsa itu tidak menulis, maka dia tidak akan dikenang,” terangnya

Ia pun menyambut dengan baik kitab yang ditulis Gus Aniq ini.

“Semoga beliau juga terus menulis, walaupun sambil mengasuh para santri, saya mohon tetap rutin menulis,” pintanya

Tema yang di angkat Gus Aniq dalam kitabnya juga sangat menarik. Salah satu tema penting umat Islam saat ini adalah tema mengenai Fikih Siyasah. Fikih tentang Negara dan politik.

Ini menurut Gus Ulil sangat penting, karena masih ada masalah yang belum selesai di kalangan tertentu . Sebagian umat Islam menurutnya, masih ada yang belum menerima bentuk – bentuk Negara bangsa, sepeti Negara Indonesia, dengan alas an Negara seperti ini tidak dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Jika masih ada umat Islam yang memiliki masalah dengan bentuk negara modern seperti Negara Indonesia, sebagai Negara bangsa, maka kata Gus Ulil akan merepotkan banyak orang. Karena sebagian orang islam akan melakukan kekerasan untuk melawan pemerintah, menimbulkan ancaman dan kemanan.

“Tema yang di angkat KH. Aniq ini adalah tema tentang itu, bagaimana kita memahami ajaran Kanjeng Nabi dengan pas. Karena memahami Hadits dan Al Qur’an dengan tidak tepat itu akan menimbulkan musibah,” jelas Gus Ulil