oleh

NOTES BOALEMO

Penulis: Hamid S.Tane, S.Sos

            Pilkada serentak yang akan di gelar dua tahun lagi memaksa Boalemo lelap dalam tidur panjang, namun dilantiknya Direktur Pendapatan Daerah Ditjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri Hendriwan sebagai Penjabat Bupati (2022 – 2024), merupakan mimpi indah menyongsong janji pagi, untuk kemudian bersama menggapai matahari.

Di sisi lain semenjak prosesi adat Mopotolungo Bupati definitif Anas Jusuf (2021 – 2022) yang melanjutkan sisa masa jabatan pasangannya (2017 – 2022). Sejak itu pula kontestasi santer diperbincangkan, bahkan memicu sawala bagi para pendiskusi warung kopi, karena masyarakat tidak sabar lagi menunggu siapa sang pembawa perubahan yang akan muncul.

Lantas seperti apa imajiner masyarakat dalam memaknai perubahan tersebut?.

Perubahan adalah parameter yang dijadikan masyarakat sebagai pembeda before and after untuk mengukur output suatu periode jabatan.

Perubahan inilah menjadi grade yang di tuntut dalam rapor kinerja pemerintah sebagai progres yang bisa di takar oleh publik. Harapan tidak bisa hanya di jawab dengan PHP, lantaran rakyat sudah kenyang dengan narasi fantasi yang di garansi oleh lip service.

            Di berbagai daerah ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah, kerap memantik reaksi. Rakyat tidak hanya bersuara melalui wakilnya. Suara – suara di luar parlemen justru lantang terdengar melalui toa aksi orasi, bahkan tembok jalanan pun tak pelak menjadi kanvas mural untuk mengoreksi.

Gerakan 98 bukan hanya menjadi titik bangkit kebebasan berekspresi yang selama 32 tahun mengelus dada dalam demokrasi yang terkekang, namun juga telah meruntuhkan imperium orde baru yang absolute power.

Sebaliknya posisi tawar menjadi opsi yang diberikan rakyat sebagai reward or punishment yang menggiring kinerja setiap pemimpin untuk memilih, di apresiasi atau dikritisi, dielukan atau dimakzulkan.

 Kondisi tersebut kemudian memeras kecerdikan Kepala Daerah untuk lebih kreatif dalam mendulang asih. Dulu blusukan menjadi tren politik empati, kini di era digital konten tebar pesona menjadi gaya baru politik simpati. Tidak ada yang terlarang dengan varian modus tersebut, kita juga tidak bisa melarang medsos yang telah memberi panggung.

Suka atau tidak selebrasi riya’ setiap saat dipertontonkan oleh pegiat pencitraan. Hasrat elektabilitas terlalu bernafsu, manakala flexing masif diiklankan oleh mereka yang adiktif jabatan.

Berbeda frekuensi dengan pemimpin tawadhu, yang enggan viral memasarkan diri. Bukan gaptek, tapi mereka lebih fokus bekerja, lantaran mereka adalah orang – orang amanah yang terpilih, karena rekomendasi “Tuhan” untuk melakukan perubahan, bukan pencitraan.

            Tidak sedikit daerah yang perkembang stagnan menjadi fakta pilu ekspektasi yang dicurangi. Fenomena ini seakan mengamini teori hukum sebab akibat, bahwa rakyat lebih memilih calon “bertopeng dewa” yang membagikan uang ketimbang kompetensi menjadi penyebabnya dan akibatnya rakyat di paksa adaptif pada kenyataan pahit yang kemudian disesali.

Petaka bila idiom tidak ada makan siang gratis meminta kembali ongkosnya, maka reversal akan retur dengan berbagai cara ke rekening empunya. Sedangkan publik dibuai oleh pengelolaan anggaran dengan opini WTP.

            Memotret Kabupaten Boalemo di usia yang baru 23 tahun, lidah akan berdecak mengagumi statistik perubahan Boalemo yang terus bergerak mendaki dalam grafik transformasi. Peningkatan di sektor pembangunan dan ekonomi menjadi kue yang kini dinikmati masyarakat, bahkan bisa jadi menarik minat daerah lain hanya untuk mengetahui adonannya.

Sebagai daerah yang makin berkembang, ibukota Boalemo kini menjadi wilayah ekspansi usaha. Kemudahan regulasi, prospek yang menjanjikan dan iklim usaha yang kondusif kemudian menjadikan Boalemo sebagai surga destinasi para pelaku usaha.

Geliat usaha komersil yang menunjukan tren positif perlahan merelokasi struktur ekonomi dari sektor primer ke sektor jasa dan perdagangan. Pergeseran ini menjadi bensin evolusi Boalemo.

            Memang tak seketika menyulap daerah menjadi mengkilap. Dibutuhkan Kepala Daerah yang visioner dan berkarakter strong leadership yang “mencambuk” OPD untuk membidani program – program baru yang inovatif dan tidak terpaku pada program copy paste yang menjadi patron pasif selama ini. Tipe pemimpin seperti ini diperlukan untuk medikasi daerah yang berkembang stunting.

Tidak dinafikan, bahwa variabel penunjang kesuksesan seorang Kepala Daerah adalah loyalitas dan kerja cerdas aparatur antar OPD yang linier dalam tarikan nafas yang sama, untuk mewujudkan visi dan misi Kepala Daerah dalam memenuhi janjinya.

            Sejak awal pemekaran, sang “Maestro” Alm. Iwan Bokings telah memboyong ASN pilihan untuk mengisi struktur perangkat daerah, namun sebagian pegawai Boalemo generasi pertama ini kemudian hijrah ke daerah jiran. Kapabilitas yang dimiliki menjadikan mereka sukses dalam kiprahnya masing – masing.

            Mengulik siapa saja mereka?, manarik untuk membuka notes Boalemo.

Daftar teratas tercatat nama birokrat ulung Idris Rahim, mantan sekda pertama Boalemo ini, juga sukses dalam karier politiknya sebagai Wakil Gubernur Gorontalo dua periode (2012 – 2017) dan (2017 – 2022).

Selanjutnya Alm. Jahja K. Nasib, juga mantan sekda Boalemo yangdi beri mandat sebagai Penjabat Bupati Pohuwato (2003 – 2005), serta eks Kakan Kesbangpol Boalemo Adrian Lahay, juga sukses mengemban amanah sebagai Penjabat Bupati Boalemo  (2016 – 2017).

Alumnus Boalemo lainnya yang kemudiansukses mencapai puncak karier dalam hirarki birokrasi Pemda, adalah; Hikman Katohidar menjadi Sekda di Pohuwato serta Ismail Patamani dan Suleman Lakoro, Keduanya menjadi Sekda di Gorontalo Utara. Bila di telisik, pentolan ASN Boalemo banyak yang mengisi struktur jabatan di daerah ini.

            Jika bicara tentang Sekda, di Boalemo terdapat beberapa figur yang juga sukses dalam jabatan strategis tersebut. Mereka adalah; Nico Habie, birokrat senior ini melepas masa pengabdiannya dengan kenangan manis.

Selanjutnya Olis Monoarfa yang mengisahkan prestisenya dalam memoar Gorontalo sebagai wanita pertama di provinsi ini yang menjabat  Sekda di Boalemo.

Sekda lainnya adalah;  Sujarno Abdul Hamid, Sofyan Hasan (Plh), Husain Etango, Yakop Musa (Pj) dan Sherman Moridu, tiga nama terakhir adalah putra – putra terbaik yang menjadi panglima ASN di daerah sendiri.

Namun sangat disayangkan tidak semua Sekda Boalemo kariernya tercatat indah, karena pena “kehabisan tinta” untuk menulis prestasinya.

            Kembali ke daftar eminen, selain sejumlah nama masyhur yang di sebut diatas, masih banyak aparatur jebolan Boalemo yang menggurita ke daerah rumpun (nama – namanya tidak di sebut karena terbatas laman). Mereka ada di setiap jenjang eselon. Mereka sukses berkompetisi dalam “turnamen” SDM di Pemkot, Pemkab, bahkan di Pemprov Gorontalo.

            Ketika notes menyibak catatannya sulit mencari alasan untuk tidak percaya, bahwa Boalemo merupakan penyumbang aparatur yang berkualitas di provinsi ini.

Idem dengan eksekutif, legislatif Boalemo juga kemudianmenorehkan tokoh – tokoh prominen yang prestasinya tercetak bold di hati masyarakat. Sebut saja; Nizam Dai, Ketua DPRD dua periode (2000 – 2004) dan (2004 – 2009) tersebut kontribusinya untuk tanah leluhur tidak bisa di hitung dengan jari. Mantan Ketua Parpol ini merupakan “Guru politik” yang telah melahirkan beberapa kader politisi ternama.

Berikutnya Rum Pagau legislator yang pernah menjabat Wakil Ketua DPRD (2009 – 2012). Walau hanya satu periode sebagai Bupati (2012 – 2017), namun “Bapak infrastruktur” ini secara instan  telah merenovasi Boalemo yang memikat mata untuk memuji.

Tokoh selanjutnya dari Rahim legislatif Boalemo adalah; Alm. MK. Dalanggo mantan Ketua Komisi A (kini Komisi I) ini, sukses sebagai Wakil Bupati pertama (2001 – 2006). Sedangkan Lahmudin Hambali yang saat ini sebagai Wakil Ketua DPRD (2019 – 2024), juga pernah menjabat Wakil Bupati Boalemo (2012 – 2017).

 Figur lain yang juga mengawali kariernya dari Dekab Boalemo yakni Suharsi Igirisa, politisi ini kemudian menjadi srikandi pertama yang reputasinya dicatat dalam Gorontalo book of records sebagai wanita sukses dalam dua jabatan politik, yaitu Ketua DPRD (2009 – 2014) dan Wakil Bupati (2021 – 2026) di Pohuwato.

Akankah Dewan Boalemo menahbiskan lagi figur the new leader DM 1 C?, ataukah para mantan yang akan kembali?, atau ada sosok baru yang akan muncul?. Asumsi warung kopi menarik untuk di tunggu.

            Terlepas dari konstelasi politik, sejumlah tokoh eksekutif dan legislatif yang di sebut di atas, mereka adalah legenda dalam hikayat negeri bertasbih.

Apalagi para mantan Bupati dan Wakil Bupati termasuk para penjabat, serta Ketua dan Wakil Ketua DPRD.

            Sebagai penikmat Boalemo, memori kita menulis jasa mereka dengan tinta emas, sebab kita tidak ingin di sebut kufur nikmat kepada mereka yang telah mendedikasikan dirinya membangun Boalemo yang saat ini kita nikmati bersama.

Kita juga enggan bertanya nikmat manakah yang kamu dustakan, karena bukti telah bersabda, bahwa karya dan karsa mereka adalah testimoni fakta, [bukan] opini notula.

Salam penulis,

Dirgahayu Kabupaten Boalemo.